Review jurnal ekonomi koperasi 3

NAMA ANGGOTA KELOMPOK:
1.MUHAMAD SOFIAN SEPTA (24210612)
2.HERI KURNIAWAN (23210252)
3.MUHAMMAD IQBAL (24210736)
4.ALEXIUS IMANUEL (20210521)
5.ADITYA MAHARDHIKA FARHAN (20210198)

Review jurnal

JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
65
*) Hasil Kajian Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Tahun 2001 (diringkas oleh : Sri
Lestari HS dan Idham Bustaman)
KAJIAN TENTANG ALIANSI STRATEGIS BAGI UKMK
POTENSIAL*
ABSTRACT
The aim of this study is for : 1). Analyzing Small & Medium Enterprises
(SMEs & Co-operative opportunity to do alliance with other part based on factors
which seemingly influence forming of alliance, 2). Identifying dominant factors in forming
of strategic alliance systems for potential Small & Medium Enterprise (SME) & Cooperative.
The study is held in 6 (six) provinces, they are in Nangroe Aceh of Darussalam,
Jambi, Bengkulu, West Java, Central Java, and Middle Kalimantan using survey
method, determining sample with sampling purposive method. While data analysis
has conducted with some methods as follows: 1). Descriptive, 2). Financial Analysis
of : over turn, solvability, and rent ability, 3) Perspective analysis by using linear
regression, and 4) Managerial analysis.
Alliance system is one of alternative choice in strengthen the Small & Medium
Enterprises (SMEs) & Co-operative to improve the role in national economy, by doing
cooperation with other economic perpetrators, by support each other as according to
potency they had between them. From this study result is obtained performance of
dominant factors which owned by Small & Medium Enterprises(SMEs) & Co-operative
which influencing forming of alliance, that is: 1) Institutional aspect: (a) Co-Operative
has owned fully equipped of his organization like Legal Corporation, organization chart,
organizational units, while mostly of Small & Medium Enterprises (SMEs) already has
his owned Legal Corporation like PT,CV, and NV , owning SIUP, SII, and etc. (b)
Education level of mostly organizers of Small & Medium Enterprises (SMEs) & Cooperative
(%) in SLTA level is true less adequate to face competitive trading which
progressively tighten, but by skilled ownership of technical production and job
experience of most organizers for more than 10 year (%) are excess value which can
be pledged; 2) Effort Aspects: (a) Small & Medium Enterprises (SMEs) & Co-operative
doing in various sector that is in agriculture, plantation, commerce, industrial, whether
small industry or crafting, (b) Using of simple technology because of limitation of
capital, (c) In marketing his product, Small & Medium Enterprises (SMEs) & Cooperative
has reached local market, regional, national, and even some have reached
export markets, ( d) From internal and external analysis, Small & Medium Enterprises
(SMEs) & Co-operative less in facing challenge or the environment around. Some
weakness factor of Small & Medium Enterprises (SMEs) & Co-operative are for example
in professionalism in operational management, marketing area, production technology,
and managerial ability. While his power is in the height of effort spirit and hard willingness
which is supported by technical and production ability. Other power is in the case of
specification or the product characteristic which is difficult to compare or similar by
import product.
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
66
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ketimpangan pertumbuhan UKMK dibandingkan dengan pelaku usaha lainnya seperti
BUMN dan swasta besar telah diatasi dengan berbagai kebijakan bersifat bimbingan
dan pembinaan, serta penciptaan iklim yang kondusif bagi tumbuh kembangnya UKMK.
Termasuk diantaranya menggugah kepedulian swasta besar untuk mengurangi jurang
perbedaan antara swasta besar dengan UKMK yang dapat berdampak negative terhadap
situasi dan kondisi ekonomi nasional. Wujud kepedulian tersebut dalam bentuk
kerjasama usaha yang terintegrasi dan berinteraksi hingga tercipta suatu kekuatan
atau sinergi dalam meraih peluang bisnis yang ada. Adapun bentuk-bentuk kerjasama
yang sudah tidak asing lagi adalah: Pola Bapak Angkat, Perkebunan Inti Rakyat, Sub
Kontrak, Hubungan Dagang, Pemasokan, Waralaba, Keagenan, dan bentuk-bentuk
lainnya.
Bentuk-bentuk kerjasama tersebut di atas telah lama berjalan dan disambut
dengan antusias oleh UKMK dengan harapan kerjasama tersebut dapat merupakan
satu kesempatan atau peluang bagi kesinambungan dan peningkatan aktivitas usaha
mereka. Akan tetapi dengan berjalannya waktu, peningkatan aktivitas yang diharapkan
tersebut kurang atau belum menjadi kenyataan, bahkan sering menimbulkan konflik.
Pernyataan ini didasarkan atas berbagai temuan lapang dari beberapa kajian dan
evaluasi terhadap beberapa pola kerjasama yang ada dan sedang berjalan saat ini,
seperti:
1 Pola Kerjasama Kemitraan Agribisnis Kelapa Sawit (Balitbangkop dan PPK tahun
1997) terdapat beberapa kelemahan antara lain:
– Besarnya ketergantungan plasma kepada inti
– Banyaknya petani pasif
– Ketidaksamaan persepsi antara yang bermitra terhadap pola kemitraan
– Kurangnya koordinasi antar pembina dari instansi terkait
2. Pola Kemitraan Usaha Kecil Menengah dengan Usaha Besar dalam Rangka
Kerjasama APEC (Balitbangkop dan PPK tahun 1997) terdapat beberapa
kelemahan, yaitu:
– Mutu produk UKMK yang kurang/tidak memenuhi standar
– Sistem konsinyasi yang menyulitkan usaha kecil
– Kurangnya koordinasi antar instansi terkait (pembina)
3. Kemitraan Usaha dalam Perikanan Inti Rakyat (Balitbangkop dan PPK tahun 1995)
terdapat beberapa kelemahan antara lain: peran inti terlalu besar
3.1. Rumusan Masalah
Permasalahan yang menjadi latar belakang dilakukannya kajian ini
yaitu: Belum optimalnya manfaat yang diterima UKMK sebagai umpan balik
atas terjalinnya kerjasama antara UKMK dengan usaha besar.
3.2. Tujuan Kajian
Tujuan dari kajian ini adalah :
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
67
1 Menganalisis peluang dalam melakukan aliansi dengan pihak lain
berdasarkan faktor-faktor yang diduga mempengaruhi pembentukan aliansi
dan faktor-faktor yang dominan dalam menghasilkan Sistem Aliansi
Strategis bagi UKMK yang potensial
2 Inventarisasi faktor-faktor yang berpengaruh dalam pembentukan aliansi
dan rekayasa sistem aliansi strategis bagi UKMK.
II. KERANGKA PEMIKIRAN
.Aliansi. berasal dari bahasa Inggris .ally. yang berarti bersekutu atau
bergabung. Untuk menghindari perbedaan persepsi, maka perlu disepakati bahwa
yang dimaksud dengan aliansi dalam kajian ini bukan merupakan penggabungan dua
atau lebih badan usaha, akan tetapi lebih diarahkan pada pengertian penyatuan aktivitas
yang saling menunjang, saling tergantung, baik secara vertikal maupun horisontal di
antara dua atau lebih usaha. Berbagai referensi teoritis yang ada sepakat bahwa
aliansi dapat merupakan salah satu konsep pemikiran dalam memecahkan persoalan
yang muncul dan sekaligus dapat menjembatani gap antara lembaga usaha yang kuat
dengan lemah.
Strategis yang berasal dari bahasa Perancis .stratos. dan .logos., sratos berarti
militer dan logos adalah cara. Selanjutnya strategis dapat diartikan sebagai cara
militer untuk memenangkan suatu peperangan. Kemudian istilah ini diadopsi oleh
praktisi bisnis dalam memenangkan persaingan yang bermuatan langkah-langkah
operasional tanpa menimbulkan persepsi dan interpretasi di antara komponen yang
terlibat dalam satu sistem atau lingkungan kerja.
Dari pengertian tersebut, maka dikemukakan bahwa aliansi strategis adalah
satu konsep kerjasama yang berisikan beberapa muatan yang sifatnya operasional
dalam bisnis yang meli[puti:
1) Aspek distributif manfaat dan biaya
Adanya kerjasama ini akan mengakibatkan pergeseran kepemilikan, antara
lain:
a. Siapa yang menjalin kerjasama
b. Untuk tujuan apa
c. Bagaimana hak tersebut diperoleh dan pengaruhnya terhadap usaha
d. Bagaimana mekanisme pendistribusian manfaat dan biaya
2) Aspek efisiensi menyangkut pengalokasian sumberdaya
3) Aspek resiko dan ketidakpastian dan faktor-faktor yang berpengaruh dalam
penciptaan kerjasama yang dimaksud di atas meliputi: kesamaan tujuan dan
adanya manfaat yang diterima
4) Optimalisasi kekuatan dan eliminasi kelemahan
5) Interpretasi dan persepsi yang sama
6) Aturan main (rule of the game)
7) Memiliki core business
Keterpaduan sistem
9) Keseimbangan hak dan kewajiban
10) Transparansi dalam batas-batas yang dikerjasamakan
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
68
11) Adanya pembagian tugas
Kriteria yang harus dimiliki oleh setiap lembaga yang melakukan aliansi
terdiri dari beberapa aspek, yaitu: a) Aspek kelembagaan, meliputi etos kerja
kelompok dan individu, proses adaptasi, dan mekanisme kerja, b) Aspek usaha
dan manajemen, meliputi produksi, pemasaran, distribusi, keuangan, dan
pengambilan keputusan, d) Aspek lingkungan, meliputi internal dan eksternal, d )
Aspek pendidikan dan pembinaan, meliputi hak paten, hak dagang, dan hak merk
INVENTARISASI
ASPEK-ASPEK
KERJASAMA
– ASPEK DISTRIBUTIF
– ASPEK EFISENSI
– ASPEK RESIKO DAN
KETIDAKPASTIAN
UKMK
– KELEMBAGAAN DAN
MANAJEMEN
– ASPEK USAHA/
BISNIS
IDENTIFIKASI KRITERIA
– Tujuan
– Manfaat
– Kekuatan
– Kelemahan
– Persepsi
– Rule
– Core Business
– Hak dan Kewajiban
– Transparansi
– Job describtion
BUMS
– KELEMBAGAAN
DAN MANAJEMEN
– ASPEK USAHA/
BISNIS
ALIANSI STRATEGIS
MANAJEMEN
INVESTASI
BISNIS
III METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Kajian
Kajian dilakukan pada 6 provinsi yaitu; Nangru Aceh Darussalam, Bengkulu,
Jambi, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Kalimantan Tengah.
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
69
3.2 Metode Kajian
Kajian dilakukan dengan metode survey. Sampel ditetapkan berdasarkan purposive
sampling. Data primer diperoleh dari pengamatan lapang dan wawancara
menggunakan daftar pertanyaan. Data sekunder diperoleh dari referensi, publikasi,
dokumen, laporan dari instansi terkait
3.3 Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan dengan cara tabulasi, sedang analisa data
dilakukan secara:1) Deskriptif, 2) Analisis manajerial, 3) Analisis finansial yang
meliputi turnover, solvabilitas, dan rentabilitas, 4) Analisis perspektif, 5) Analisis
SWOT
3.4 Ruang Lingkup
Ruang lingkup kajian adalah:
a. Mengkaji UKMK potensial untuk melakukan aliansi berdasarkan kompetensi
dan kapabilitasnya
b. Inventarisasi beberapa bentuk aliansi yang sudah operasional sebagai
masukan dalam pembentukan aliansi
c. Inventarisasi potensi wilayah.
IV. HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Aspek kelembagaan UKMK
4.1.1 Visi
Aspek kelembagaan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan
organisasi, baik yang bergerak dalam usaha sosial (nirlaba) maupun organisasi
usaha (bisnis), di mana dalam aspek tersebut dijelaskan tujuan, sasaran, dan
eksistensinya di dalam dan di luar organisasi. Lebih jauh lagi, bahwa dalam
aspek kelembagaan tersebut menyangkut perspektif aktivitas secara menyeluruh
masa kini dan masa yang akan datang. Perspektif masa depan ini dalam langkah
operasionalnya diwujudkan dan diaplikasikan dalam bentuk rencana jangka
pendek, menengah, dan jangka panjang.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap perspektif usaha
kecil menengah dan koperasi (UKMK), dalam hal visi dan misi terlihat adanya
kelemahan, yang mana secara umum (64%) koperasi dan usaha kecil menengah
sampel kurang memahami makna dan tujuan visi suatu organisasi usaha.
Memang ada kalanya bahwa visi suatu organisasi atau perusahaan tidak
selamanya dinyatakan dalam bentuk tertulis akan tetapi dapat juga berupa slogan
atau semboyan, namun semboyan atau slogan tersebut disepakati dan difahami
oleh segenap pengelola organisasi atau usaha sebagai salah satu acuan dalam
menyusun rencana strategis , yang diterjemahkan dalam bentuk program kerja
yang akan dilakukan dalam kegiatan usaha untuk mewujudkan tujuan perusahaan
baik secara periodik maupun insidentil dan akhirnya tercapainya sasaran suatu
tujuan jangka panjang.
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
70
Kelemahan visi koperasi dan usaha kecil berdampak kurang
menguntungkan bagi pertumbuhan maupun perkembangan usaha koperasi dan
usaha kecil, dan diduga berkaitan dengan persoalan-persoalan yang dihadapi
selama ini. Dalam rangka percepatan pertumbuhan usaha, dimana persoalan
tersebut sudah menjadi penciri koperasi dan usaha kecil karena muncul berulangulang
(klasik) dan belum dapat terselesaikan sampai saat ini, diantaranya
kelemahan manajemen organisasi, manajemen usaha yang berkaitan dengan
permodalan dan pemasaran, juga berkaitan dengan persaingan dengan usahausaha
besar.
4.1.2 Profil Pengelola
Kemampuan menjalankan usaha sangat ditentukan juga oleh
kompetensi yang dimiliki, dimana kompetensi merupakan aktualisasi dari
segenap potensi yang dimiliki setiap individu yang bersumber dari pengetahuan
dan keahlian, baik yang diperoleh dari pendidikan formal maupun nonformal,
pengalaman serta bakat yang dimiliki individu. Adapun profil rata-rata pengelola
UKMK contoh ditunjukkan sebagai berikut: 1) dilihat dari tingkat pendidikan:
tingkat pendidikan sarjana (S1-SM) 9%, SLTA 79%, SLTP 12%; 2) dilihat dari
pemahaman terhadap ilmu pengetahuan: manajemen organisasi 15%, teknis
produksi 55%, pengendalian mutu 20%, dan teknis pemasaran 10%; 3) dilihat
dari pengalaman, >15 tahun 34%, 10-14 tahun 52%, 5-9 tahun 10%, dan 1-4
tahun 4%.
Dalam rangka pengembangan jangka panjang dan semakin ketatnya
persaingan bisnis, dengan kondidsi rata-rata pengelola UKMK kebanyakan
berpendidikan SLTA (79%) sudah kurang memadai, meskipun telah ditopang
dengan pengalaman kerja lebih 15 tahun (34%) dan 10 – 14 tahun (52%).
Untuk itu harus ditunjang dengan peningkatan kemampuan keterampilan
melalui pelatihan-pelatihan atau pendidikan nonformal.
4.1.3 Pengorganisasian
Dilihat dari aspek organisasi, koperasi lebih lengkap dibanding
dengan UKM, baik dalam hal penggunaan tenaga manajer, ada tidaknya
pembagian tugas dan tanggung jawab, serta struktur organisasi. Dalam
penggunaan tenaga manajer, ternyata 88,88% koperasi contoh telah memiliki
manajer, sedangkan UKM contoh hanya 62,5%. Koperasi yang memiliki
pembagian tugas 93,73%, sedangkan UKM 81,25% dan koperasi memliki
struktur organisasi 100% sedangkan UKM hanya 61,11%. Keunggulan koperasi
dalam penggunaan manajer, pembagian tugas secara tertulis serta
pembentukan struktur organisasi merupakan hasil pembinaan yang dilakukan
secara terus-menerus terhadap kelembagaan koperasi, sebagai salah satu
upaya peningkatan profesionalisme pengelolaan usaha.
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
71
4.2 Aspek Usaha UKMK
4.2.1 Sarana Usaha
Sarana usaha yang diamati adalah perkantoran, rumah produksi
(workshop), kantor pemasaran, dan faktor penunjang usaha (prasarana) meliputi
alat transportasi dan komunikasi. Adapun data kepemilikan sarana dan
prasarana dimaksud sebagai berikut:
Hampir semua koperasi dan UKM sampel telah memiliki kantor
meskipun sebagian masih menyewa, dengan kondisi yang cukup memadai.
Pada umumnya pertokoan dan showroom yang dimiliki koperasi/UKM sampel
pada umumnya juga melekat dengan perkantoran. Artinya, bahwa sarana kerja,
kantor, workshop dan showroom berada dalam satu gedung. Lokasinya pada
umumnya berada dalam lingkungan perumahan. Alasan pemilihan lokasi hanya
didasarkan pada kedekatan dengan tempat tinggal pemilik dan ada juga dengan
alasan karena merupakan sentra pengrajin yang telah lama terbentuk .
4.2.2 Pasar produk UKMK
Dari hasil kajian ditunjukkan rata-rata pasar produk UKMK contoh
diseluruh lokasi paling tinggi adalah pasar regional (34,33%), kemudian pasar
nasional (30%), pasar lokal (21,83%), dan ekspor (13,83%). Hampir di seluruh
lokasi kajian produk UKMK telah diekspor. Kegiatan ekspor paling tinggi
adalah UKMK di Provinsi Jambi (30%), didiikuti Provinsi NAD (16%), dan paling
rendah Provinsi Bengkulu (4%).
4.2.3 Kinerja Keuangan UKMK
Pertumbuhan UKMK pada masa kritis tidak banyak berpengaruh
karena UKMK tidak banyak menggunakan komponen impor. Sebagian
malahan sudah berorientasi ekspor sehingga mendapat nilai tambah atas
depresiasi rupiah terhadap dollar. Hal ini ditunjukkan dengan adanya
pertumbuhan keuangan sebagai berikut: pertumbuhan aset ( 22,96 %), modal
sendiri (20,49%), dan pendapatan (18,70%), dimana pertumbuhan aset paling
tinggi UKMK di Provinsi Bengkulu (27,66%), pertumbuhan modal sendiri
tertinggi di Kalimantan Tengah (24,16%), dan pertumbuhan pendapatan UKMK
di Provinsi Bengkulu (25%).
4.2.4 Analisa keuangan UKMK
Untuk mengetahui lebih dalam kinerja UKMK dilakukan analisa
kemampuan dengan analisa ratio yang terdiri dari ratio aktiva (asset turnover),
solvabilitas, dan rentabilitas. Dari hasil kajian ditunjukkan rata-rata hasil analisa
finansial UKMK contoh adalah: turnover 13,02 %, solvabilitas109 %, dan
rentabilitas 9,75 %., yang mana rata-rata : turnover over paling tinggi dicapai
UKMK Jambi (15,66% ), paling rendah Kalteng (11 %), solvabilitas paling
tinggi UKMK Jawa Barat (109%), paling rendah Aceh (101% ) dan rentabilitas
paling tinggi UKMK Jambi ( 16 %), paling rendah Jateng dan Jabar masingmasing
6,66% .
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
72
4.2.5 Analisa Perspektif
Analisa persektif bertujuan untuk mengkaji peluang pengembangan
UKMK dalam jangka panjang (lima) tahun kedepan, dengan tehnik pendekatan
peramalan atau forcasting, dari aspek rata-rata total asset, modal sendiri,
dan pendapatan operasi. Hasil dari analisis ini menunjukkan adanya
peningkatan dari ketiga aspek tersebut meskipun tidak terlalu tinggi, yaitu
pada tahun 2005 rata-rata total asset UKMK akan menjadi Rp 650,54 juta,
rata-rata total modal sendiri akan mencapai Rp 126,56 juta dan rata-rata total
pendapatan akan mencapai Rp107,36 juta
4.2.6 Analisa Faktor Internal dan Eksternal
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui faktor faktor yang diduga
berpengaruh dalam penetapan kekuatan, kelemahan , peluang dan ancaman,
dengan menggunakan tennik Internal Factor Evaluation (IFE) dan External
Factors Evaluation ( EFE ). Berdasarkan analisis ini akan dapat ditentukan
strategi bisnis dengan mengoptimalkan kekuatan dalam merebut peluang dan
mengeliminir kelemahan dalam menghadapi ancaman.
Faktor- faktor internal yang dianalisis meliputi: a) kekuatan : tehnis
produksi, idealisme pengelola, potensi anggota, ketrampilan karyawan, produk
, dan b) kelemahan : pemasaran, permodalan, teknologi, jaringan usaha dan
rasa memiliki.
Dari hasil analisis ternyata faktor produk, ketrampilan dan tehnis
produksi merupakan kekuatan yang membentuk kompetensi UKMK sedang
permodalan dan manajemen pemasaran merupakan faktor kelemahannya,
Produk UKM umumnya memiliki kekhasan yang berhubungan dengan bentuk,
kegunaan, ciri khas daerah, bersifat natural dan memiliki nilai artistik. Dari
total nilai semua faktor 2,65 berarti diatas nilai rata-rata (2,50) menunjukkan
bahwa faktor internal UKM termasuk baik/ kuat.
Analisis faktor eksternal bertujuan untuk mengetahui posisi UKM
terhadap adanya peluang dan menghadpi ancaman. Faktor-faktor eksternal
yang dianalisis meliputi : 1) Peluang, yang terdiri dari: a) kebijakan perkuatan
industri kecil, b) tingginya harga produk impor, c) kemajuan teknologi informasi,
d) respon konsumen, e) aliansi, 2) Ancaman, yang terdiri dari : a) intensitas
persainga, b)peningkatan teknologi, c) pertumbuhan ekonomi, d) globalisasi
industri, e) kebijakan perdagangan dunia.
Hasil analisis menunjukkan UKMK kurang mampu menghadapi
tantangan atau dinamika lingkungan eksternalnya, hal ini ditunjukkan dari
total nilai sebesar 2,46 yang berarti lebih rendah dari total rata-rata standar:
2,50. Kelemahan UKMK terletak pada beberapa faktor diantaranya penguasaan
atau profesionalisme dalam manajemen operasional yang harus didukung oleh
kemampuan atau penguasaan teoritis dan teknis, terutama dalam bidang
pemasaran, teknologi produksi dan kemampuan manajerial, sedangkan yang
menjadi kekuatan UKMK adalah tingginya semangat usaha dan adanya
kemauan keras yang didukung oleh kemampuan teknis dan penguasaan tehnik
produksi.
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
73
4.3 Analisis Deskritif Lokasi Sampel
Analisis ini bertujuan untuk melihat potensi wilyah sampel sebagai
bahan pertimbangan atau daya dukung dalam menentukan kelayakan UKMK
melakukan aliansi. Beberapa aspek yang dianalisa antara lain jumlah UKMK,
penyerapan tenaga tenaga kerja, jumlah investasi, untuk beberapa sektor :
industri pertanian dan kehutanan, industri logam, mesin, kimia, dan aneka
industri.
Dari hasil kajian ditunjukkan, kegiatan atau aktivitas yang paling
potensial adalah subsektor hasil hutan terutama di daerah Kalimantan Tengah,
Jambi, Bengkulu dan Aceh, yaitu industri penggergajian, industri kayu, dan
meubel. Industri yang bergerak di bidang pengolahan kayu ( industri kayu )
paling banyak yaitu sebanyak 22,82 % , yang menyerap tenaga kerja 24,82
%, dan menggunakan investasi 25, 65 %, kemudian industri penggergajian
kayu dengan jumlah 20.83 %, yang menyerap tenaga kerja 23,46 % dan
menggunakan investasi 22,45 %. Diikuti industri meubel sebanyak 15,16 %,
yang menggunakan tenaga kerja 15,16 %, dan menggunakan investasi 15,45
%. Industri lain yang potensial adalah industri kerajinan, dengan jumlah 14,6
%, menyerap tenaga kerja 12,48 % dan menggunakan investasi 9,56 %. Industri
hasil pertanian yang potensial yaitu di Jawa Barat dan Jawa Tengah, yaitu
industri roti dan jajanan dengan jumlah 12 %, menyerap tenaga kerja 11,57 % ,
dengan jumlah investasi 12,67 %.
Kegiatan atau usaha pada sektor logam, besi, dan aneka industri, paling
potensial adalah industri garmen atau konveksi dengan jumlah 20,10 %, menyerap
tenaga kerja 25,35 % dan investasi 19,27 %, diikuti industri aneka jasa sebanyak
17,24 %, menyerap tenaga kerja 12,25 % dan investasi 15,56 %.
4.4 Rekayasa sistim Aliansi
Berdasarkan hasil kajian dan analisis keragaan kelembagaan, usaha,
finansial, proyeksi pengembangan usaha dan faktor eksternal dan internal, serta
potensi wilayah, dapat ditarik kesimpulan beberapa faktor dominan yang
mendukung UKMK potensial atau penting dilakukan rekayasa sistim aliansi
dengan pihak lain, antara lain karena:
1). Aktivitas UKMK merupakan bagian dari aktivitas ekonomi nasional dan
turut ambil bagian dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB),
2). UKMK merupakan penyedia barang dan jasa , baik sebagai produk utama
atau produk substitusi, guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan
sebagai penghemat devisa,
3). UKMK dalam kegiatan produksinya lebih banyak menggunakan bahan
baku maupun bahan pembantu yang berasal dari dalam negeri, dengan
demikian aktivitas UKMK meningkatkan nilai tambah sumberdaya dalam
negeri sekaligus menghemat devisa
4). Jumlah UKMK yang banyak dan menyebar hampir keseluruh wilayah
Indonesia merupakan penggerak ekonomi daerah melalui penyerapan
tenaga kerja, penyebaran investasi, pemanfaatan sumberdaya, dan
sebagainya,
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
74
5). UKMK merupakan bagian (sub sistem) dalam sistem perekonomian
Nasional, sebagai salah satu sub sistem maka tidak dapat dipisahkan
dari sub sistem (pelaku-pelaku ) ekonomi lainnya
6). UKMK memiliki beberapa kendala, permasalahan dalam pengembangan
usahanya, untuk itu diperlukan upaya yang bersifat simultan termasuk
rakayasa sistem aliansi, guna meningkatkan profesionalismenya dalam
pengelolaan usaha, produksi, pemasaran, maupun keuangan.
Rekayasa sistem aliansi yang saling menguntungkan dapat terjadi
bila dapat dipenuhi beberapa persyaratan sebagaimana dikemukakan oleh
Asep Saefudin dalam Pengembangan Sumberdaya Lintas Regional melalui
Kerjasama Kelembagaan yang meliputi: 1) Memiliki kepentingan yang sama,
2) Bermanfaat bagi masing-masing lembaga yang bekerjasama 3)
Mensinergikan kekuatan dan keunggulan, serta mengurangi kelemahan dan
hambatan masing-masing, 4) Optimalisasi penggunaan sumberdaya, 5)
Berbagi pengalaman dalam kegagalan maupun keberhasilan
4.5 Faktor-faktor teknis dalam aliansi
4.5.1. Usaha Unggulan ( Core Business)
Usaha unggulan dapat diartikan secara luas yaitu menyangkut aktivitas
bisnis secara menyeluruh baik secara vertikal dari hulu sampai ke hilir, yaitu
mulai dari penyediaan input produksi, produksi, sampai penyampaian barang
atau jasa pada konsumen akhir. Atau secara parsial seperti penyediaan sarana
dan prasarana, penyediaan informasi, peningkatan aksebitas terhadap lembaga
keuangan baik perbankan maupun non bank, peningkatan kemampuan sumber
daya manusia melalui training, pelatihan tehnis produksi, dan peningkatan
manajerial.
Adapun kegiatan/aktivitas UKMK yang diharapkan dapat dilakukan
aliansi (%), berdasarkan analisis di daerah/lokasi sampel adalah sebagai
berikut:
No Aktivitas Lokasi
Aceh Bengkulu Jambi Jabar Jateng Kalteng Ratarata
1 Pengadaan
bahan baku
15 26 10 12 18 15 16
2 Tehnik
Produksi
20 20 17 16 15 15 17,16
3 Tehnologi
produksi
35 25 27 30 35 30 30,34
4 Pemasaran 30 29 46 42 32 40 36,5
Total 100 100 100 100 100 100 100
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
75
Dari 4 (empat) kegiatan UKMK yang diharapkan dilakukan aliansi,
ternyata aktivitas yang paling banyak diharapkan dilakukan aliansi adalah
pemasaran (36,5%), kemudian aktivitas tehnologi produksi (30,34 %).
Pemilihan kedua kegiatan ini sejalan dengan kelemahan yang dimiliki UKMK
untuk semua wilayah.
Bentuk aliansi yang diharapkan untuk kedua kegiatan ini tidak sama
ini tidak sama, untuk teknologi produksi 67% menginginkan dalam bentuk
pemberian fasilitas permodalan berupa pinjaman lunak yang berarti menambah
asset UKMK, sedang 33 % menginginkan tehnologi produksi merupakan bagian
dari aliansi pemasaran, dalam bentuk paket.
4.5.2. Keterpaduan Sistem
Keterpaduan sistem akan menghasilkan keselarasan gerak antar
elemen-elemen ( sus sistem) yang ada sehingga tujuan dan sasaran kegiatan
dapat tercapai secara optimal. Keterpaduan sistem kurang ditemukan dalam
pola-pola kerjasama yang ada dan telah berjalan selama ini, diduga disebabkan
karena beberapa hal, antara lain:
1. Kelemahan dalam menetapkan muatan-muatan yang terkandung alam
kesepakatan atau perjanjian kerjasama
2. Kurangnya sosialisasi konep bisnis secara menyeluruh yang tercermin
dalam visi dan misi
3. Terputusnya sistem, karena sistem yang dibuat ditetapkan secara
sepotong-sepotong, sehingga rangkaian aktivitas terputus, atau tejadinya
pemenggalan rangkaian sistem pada simpul-simpul yang kurang tepat.
4.5.3. Profesionalisme
Profesionalisme merupakan aktualisasi kompetensi dan kapabilitas
organisasi, baik organisasi sosial maupun organisasi usaha yang bersifat
business oriented. Berdasarkan pengamatan terhadap kinerja kelembagaan
UKMK ditunjukkan kurangnya profesionalisme kebanyakan pengelola, karena
kurangnya kapabilitas dan kompetensinya, yang hanya mengandalkan
ketrampilan dan kemampuan tehnis produksi secara turun temurun. Hal
tersebut menjadi faktor pertimbangan akan perlunya aliansi. Dalam
hubungannya dengan kesatuan sub sistem yang perlu mendapat perhatian
adalah bagaimana menetapkan aktivitas masing-masing subsistem yang ada
sekaligus sebagai naskah dalam menentukan muatan-muatan aliansi.
4.5.4. Insentif dan proaktif
Intensif dan proaktif berarti masing-masing pihak yang melakukan
kerjasama dituntut untuk kratif memanfaatkan peluang yang ada, mencari
terobosan-terobosan baru baik yang berhubungan langsung dengan aktivitas
yang dikerjasamakan maupun yang tidak dikerjasamakan atau aktivitas sendiri
( business entity ). Selama ini kegiatan koperasi merpakan program
pemerintah yang telah memiliki perencanaan , sasaran, target dan kebijakan
operasional secara menyeluruh dan baku, yang mengakibatkan pengelola
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
76
koperasi kebanyakan kurang proaktif mencari kegiatan/usaha di luar program,
bahkan seakan tertutup atau mati kreativitasnya akibat hanya sebagai pelaku
saja, mengikuti aturan-aturan yang sudah ada.
Dalam pelaksanaan beberapa pola kerjasama, kreativitas juga belum
muncul, seperti dinyatakan oleh 56 % responden, bahwa kerjasama dapat
mengurangi kreativitas karena mekanisme dan pelaksanaan kegiatan telah
ditetapkan dalam kontrak , yang mana muatan-muatan dalam kontrak kurang
mengakar pada kondisi dan keberadaan UKMK. Sebagai upaya untuk
menumbuhkan semangat atau sifat proaktif, maka lembaga yang terkait dalam
satu kerjasama hendaknya memberikan iklim yang kondusif dan media yang
tepat, sedang aturan main berfungsi sebagai penunjang atau pengendali saja.
4.6. IMPLIKASI REKAYASA ALIANSI
Sistem aliansi merupakan salah satu alternatif dalam upaya perkuatan usaha
kecil menengah dan koperasi menuju pertumbuhan dan perkembangan ekonomi
nasional secara bersama-sama dengan pelaku ekonomi lainnya (industri besar).
Untuk itu upaya-upaya yang dapat menunjang terciptanya kerjasama dapat
disarankan beberapa hal yaitu:
4.6.1 Sistem Aliansi
Penetapan sistem aliansi strategis harus mengakar pada hal-hal yang
hakiki bagi kedua lembaga yang akan beraliansi, maka untuk penetapan
substansi pokok harus bersumber dan mengakar pada lembaga yang akan
beraliansi. Upaya yang dilakukan adalah sebagaimana gambar berikut :
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
77
(1)
POTENSI ANGGOTA/UKMK
(MEMBERS)
(2) COLECTING/INVENTARISASI
(3) IDENTIFIKASI/KLASIFIKASI
(4)
KEBUTUHAN NYATA
(5) SELEKSI
(6) POTENSI TERPILIH
(7) PENETAPAN PRIORITAS
(8) USAHA UNGGULAN
(9) REKAYASA SISTEM
(10) SISTEM ALIANSI
(11) UJI COBA SISTEM
(12) NOT APLICABLE
(13) APLICABLE
(14) IMPLEMENTASI
(15)
HASIL (OUTPUT)
(A)
U K M K
(B) LEMBAGA
PENDAMPINGAN
& UKMK
(B) LEMBAGA
PENUNJANG
(SUPPORTING)
(16b) Umpan Balik
(16a) Marjin
Kerangka Penyusunan Sistem Aliansi
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
78
4.6.2 Sistematika Rancang Bangun Sistem Aliansi
Dalam membuat rancang bangun sistem aliansi strategis bagi UKMK
dilakukan beberapa langkah atau tahapan praktis guna mendapatkan sistem
yang manajIble dan aplikatif bagi UKMK. Upaya yang dilakukan adalah
sebagaimana yang terlihat pada langkah kerja berikut :
Kerangka Instrumen-instrumen Usaha
LANGKAH
Mengetahui lingkup
aktivitas usaha-usaha
masing-masing lembaga
yang akan beraliansi
Memahami profil usaha
Mengamati kinerja
keuangan UKMK
Mengetahui profil
dan sumber
permodalan
– Sosialisasi/publikasi
aktivitas masing-masing
lembaga
– Penetapan batasanbatasan
aktivitas usaha
– Penetapan wewenang
dan tanggung jawab
masing-masing lembaga
yang beraliansi
Mengkaji profil usaha
Evaluasi aktivitas finansial
UKMK
– Inventarisasi segenap
aktivitas kelembagaan
usaha secara fisik dan
nonfisik
– Melakukan strukturisasi
modal
– Ruang lingkup
aktivitas
– Sistematika
operasional
– Hak dan kewajiban
– Skala usaha
– Sasaran jangka
menengah dan
jangka pendek
– Jaringan usaha
– Jaringan informasi
– Likuiditas
– Rentabilitas
– Probitabilitas
– Perspektif usaha
– Struktur biaya
– Efisiensi dan
efektivitas finansial
– Struktur permodalan
– Sharing capital
– Sumber-sumber
dana yang
ekonomis
– Profit sharing
AKTIVITAS OUTPUT
– Evaluasi kemampuan
pendanaan masing
– masing lembaga
Evaluasi sumber
– sumber permodalan
(internal dan eksternal)
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
79
Kerangka Kelembagaan
LANGKAH AKTIVITAS OUTPUT
Menetapkan kelembagaan
aliansi
– Sosialisasi /publikasi
aktivitas masing-masing
lembaga
– Penetapan batasan
aktivitas
– Menyusun keterpaduan
aktivitas
– Penetapan wewenang
dan tanggung jwab
masing-masing
lembaga yang
beraliansi
– Rancang bangun
kelembagaan aliansi
– Model aliansi
– Bangun aliansi
Kerangka Sarana Kelembagaan dan Usaha
LANGKAH AKTIVITAS OUTPUT
Menetapkan kebutuhan fisik – Inventarisasi kebutuhan fisik
sarana perkantoran, sarana
penunjang informasi dan
komunikasi
– Plan action/plan site
– Kebutuhan space/luas
dan bentuk perkantoran
– Layout
– Kebutuhan sarana
informasi dan
komunikasi
Menetapkan sarana
produksi
– Identifikasi jenis dan sifat/
produksi
– Inventarisasi lingkup/skala
produksi
– Pengenalan aktivitas
produksi
– Jenis dan sifat teknologi
– Kuantitas teknologi
V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI REKAYASA ALIANSI
5.1 KESIMPULAN
5.1.1 Aspek Kelembagaan
Aspek kelembagaan diantaranya Badan Hukum menyangkut legalitas
sebagai salah satu bentuk usaha yang sah, yang umumnya diberikan oleh
instansi pemerintah. Hampir seluruh UKMK sampel telah memiliki Badan
Hukum, baik Badan Hukum Koperasi, PT, NV, CV , serja perijinan lainya
seperti SIUP, SII, dan sebagainya.
Dilihat dari sisi kelembagaan, UKMK khususnya koperasi telah
memiliki kelengkapan organisasi dengan adanya unit-unit organisasi seperti
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
80
tersebut dalam struktur organisasi. Hal ini merupakan hasil pembinaan lembaga
yang secara terus-menerus dilakukan. Segenap kegiatan/aktivitas telah mulai
didistribusikan ke dalam unit-unit organisasi yang ada dan dalam
operasionalnya. Koordinasi pelaksanaan aktivitas dapat terbagi dalam dua
bagian, yaitu: pertama berada di bawah koordinasi pemilik/pengurus dan
kedua koordinasi dibawah seorang manajer.
5.1.2 Aspek Jenis Usaha
Usaha yang ditangani oleh UKMK pada umumnya adalah usaha di
sektor pertanian, peternakan, perkebunan, dan industri yang kebanyakan
merupakan industri kerajinan/industri kecil. Khusus yang bergerak dalam sektor
industri 100% UKM memerlukan input produksi yang bersumber dari dalam
negeri. Hal inilah yang menguntungkan bagi UKM mengingat pemanfaatan
komponen dalam negeri lebih menguntungkan dibanding dari komponen impor.
Hal inilah yang diperkirakan mendukung UKMK tetap dapat bertahan dan
bahkan masih bertumbuh pada saat krisis yang dinyatakan dengan
pertumbuhan aset, modal sendiri dan pendapatannya
5.1.3 Aspek Teknologi
Penggunaan teknologi sederhana dalam proses produksi membuat
UKMK mengalami keterbatasan dalam memenuhi permintaan baik dalam hal
kuantitas maupun kualitas. Peningkatan penggunaan teknologi sulit bagi
UKMK karena keterbatasan modal.
5.1.4 Aspek Jangkauan Pasar
Produk hasil olahan UKMK telah menjangkau pasar relatif luas, hal
ini ditunjukkan dari sasaran pasar yang meliputi pasar regional, nasional,
bahkan internasional.
5.1.5 Aspek Sistem Pemasaran
UKMK Dalam memasarkan produknya, pada umumnya belum
dilakukan melainkan melalui perantara terutama pasar ekspor, hal ini dilakukan
karena belum memiliki tenaga pemasararan yang profesional.
5.1.6 Evaluasi Faktor Internal dan Eksternal
Sesuai dengan hasil analisa faktor internal dan eksternal, UKMK kurang
mampu menghadapi tantangan atau dinamika lingkungan eksternalnya.
Kelemahan UKMK terletak pada beberapa faktor diantaranya penguasaan atau
profesionalisme dalam manajemen operasional yang harus didukung oleh
kemampuan atau penguasaan teoritis dan teknis, terutama dalam bidang
pemasaran, teknologi produksi dan kemampuan manajerial, sedangkan yang
menjadi kekuatan UKMK adalah tingginya semangat usaha dan adanya
kemauan keras yang didukung oleh kemampuan teknis dan penguasaan
prossesing, serta karakteristik produknya.
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
81
5.1.7 Aliansi
Masuknya aliansi bagi pengembangan UKMK dapat mengoptimalkan
potensi yang dimiliki dan meminimalkan kelemahan.
5.2 IMPLIKASI REKAYASA ALIANSI
Sistem aliansi merupakan salah satu alternatif dalam upaya perkuatan usaha
kecil menengah dan koperasi menuju pertumbuhan dan perkembangan ekonomi
nasional secara bersama-sama dengan pelaku ekonomi lainnya (industri besar).
Untuk itu upaya-upaya yang dapat menunjang terciptanya kerjasama dapat
disarankan beberapa hal yaitu:
5.2.1 Sistem Aliansi
Penetapan sistem aliansi strategis harus mengakar pada hal-hal yang
hakiki bagi kedua lembaga yang akan beraliansi, maka untuk penetapan
substansi pokok harus bersumber dan mengakar pada lembaga yang akan
beraliansi. Upaya yang dilakukan adalah sebagaimana gambar berikut :
Kerangka Penyusunan Sistem Aliansi
(1)
POTENSI ANGGOTA/UKMK
(MEMBERS)
(2) COLECTING/INVENTARISASI
(3) IDENTIFIKASI/KLASIFIKASI
(4)
KEBUTUHAN NYATA
(5) SELEKSI
(6) POTENSI TERPILIH
(7) PENETAPAN PRIORITAS
(8) USAHA UNGGULAN
(9) REKAYASA SISTEM
(10) SISTEM ALIANSI
(11) UJI COBA SISTEM
(12) NOT APLICABLE
(13) APLICABLE
(14) IMPLEMENTASI
(15)
HASIL (OUTPUT)
(A)
U K M K
(B) LEMBAGA
PENDAMPINGAN
& UKMK
(B) LEMBAGA
PENUNJANG
(SUPPORTING)
(16b) Umpan Balik
(16a) Marjin
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
82
5.2.2 Sistematika Rancang Bangun Sistem Aliansi
Dalam membuat rancang bangun sistem aliansi strategis bagi UKMK
dilakukan beberapa langkah atau tahapan praktis guna mendapatkan sistem
yang manajIble dan aplikatif bagi UKMK. Upaya yang dilakukan adalah
sebagaimana yang terlihat pada langkah kerja berikut :
Kerangka Instrumen-instrumen Usaha
LANGKAH AKTIVITAS OUTPUT
Mengetahui lingkup aktivitas
usaha-usaha masingmasing
lembaga yang akan
beraliansi
– Sosialisasi/publikasi aktivitas
masing-masing lembaga
– Penetapan batasan-batasan
aktivitas usaha
– Penetapan wewenang dan
tanggung jawab masingmasing
lembaga yang
beraliansi
– Ruang lingkup aktivitas
– Sistematika operasional
– Hak dan kewajiban
– Skala usaha
– Sasaran jangka
menengah dan jagka
pendek
– Jaringan usaha
– Jaringan informasi
Memahami profil usaha Mengkaji profil usaha – Likuiditas
– Rentabilitas
– Probitabilitas
– Perspektif usaha
Mengamati kinerja
keuangan UKMK
Evaluasi aktivitas finansial
UKMK
– Struktur biaya
– Efisiensi dan efektivitas
finansial
Mengetahui Kinerja dan
Sumber Permodalan
– Inventarisasi segenap
aktivitas kelembagaan usaha
secara fisik dan nonfisik
– Melakukan strukturisasi
modal
– Evaluasi kemampuan
pendanaan masing-masing
lembaga
– Evaluasi sumber-sumber
permodalan (internal dan
eksternal)
– Struktur permodalan
– Sharing capital
– Sumber-sumber dana
yang ekonomis
– Profit sharing
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
83
Kerangka Kelembagaan
LANGKAH AKTIVITAS OUTPUT
Menetapkan kelembagaan
aliansi
– Sosialisasi /publikasi
aktivitas masing-masing
lembaga
– Penetapan batasan
aktivitas
– Menyusun keterpaduan
aktivitas
– Penetapan wewenang
dan tanggung jwab
masing-masing
lembaga yang
beraliansi
– Rancang bangun
kelembagaan aliansi
– Model aliansi
– Bangun aliansi
Kerangka Sarana Kelembagaan dan Usaha
LANGKAH AKTIVITAS OUTPUT
Menetapkan kebutuhan fisik – Inventarisasi kebutuhan fisik
sarana perkantoran, sarana
penunjang informasi dan
komunikasi
– Plan action/plan site
– Kebutuhan space/luas
dan bentuk perkantoran
– Layout
– Kebutuhan sarana
informasi dan
komunikasi
Menetapkan sarana
produksi
– Identifikasi jenis dan sifat/
produksi
– Inventarisasi lingkup/skala
produksi
– Pengenalan aktivitas
produksi
– Jenis dan sifat teknologi
– Kuantitas teknologi