Review Jurnal Ekonomi Koperasi 6
NAMA ANGGOTA KELOMPOK:
1.MUHAMAD SOFIAN SEPTA (24210612)
2.HERI KURNIAWAN (23210252)
3.MUHAMMAD IQBAL (24210736)
4.ALEXIUS IMANUEL (20210521)
5.ADITYA MAHARDHIKA FARHAN (20210198)
REVIEW JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
84
*) Kajian ini dilaksanakan Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK bekerjasama dengan Lembaga
Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2004 ( diringkas oleh
Asep Kamaruddin )
PROYEKSI PENGEMBANGAN KEBUTUHAN WIRAUSAHA BARU
DALAM RANGKA KESIAPAN
MENUJU LIBERALISASI PERDAGANGAN DAN INVESTASI*)
ABSTRACT
This study aim to compile projection of new enterpreneur in Indonesia year 2004-2009,
identifying factors influencing growth of new enterpreneur, and know characteristic of
enterpreneur conducting business activity of small scale. This study is executed by
using survey method in 15 ( fifteen) province, that is North Sumatera, Riau, South
Sumatera, Lampung, West Java, Central Java, Yogyakarta, East Java, Bali, Nusa of
West South-East, South Kalimantan, East Kalimantan, North Sulawesi, South Sulawesi,
and Papua. Object of study are factors influencing amount of new enterpreneur,
projection sum up new enterpreneur [of] year 2004-2009, and characteristic of
enterpreneur of scale of SMEs in various sector of business. Election of sample
conducted by cluster sampling of pursuant to sector of business. Result of research
indicate that : 1) projection sum up new enterpreneur for year 2004-2009 indicating that
in range of time five the year sum up new enterpreneur increase about 5.187.527 unit
of small scale and 17.226 unit of middle scale; 2) sector of most potential business for
new enterpreneur with small scale are commerce, hotel and restaurant; transportation
and communications; and the agriculture, ranch, forestry, plantation, and the fishery;
3) sector of most potential business to develop new enterpreneur with middle scale are
finance, rental and company service; commerce, hotel, and the restaurant, and also
the processing industry; 4) factors influencing to expand new enterpreneur are
characteristics of business enterpreneur ( age, gender, and level of education; legality
of entity; capital; marketing target; and the labour); cultural and also characteristic of
new enterpreneur ( motivate to try; resistance launch out; accepted support; and the
governmental role).
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Krisis ekonomi telah mengakibatkan pelaku usaha di Indonesia tertinggal 5-7
tahun dibandingkan dengan pelaku usaha negara lain. Kondisi ini mengakibatkan
daya saing ekonomi nasional mengalami penurunan peringkat secara sangat signifikan.
Karena itu, kebutuhan pengembangan wirausaha baru di Indonesia menjadi keniscayaan
meningkatkan daya saing dan daya dukung perekonomian nasional. Hal ini disebabkan
jumlah wirausaha di sektor industri pengolahan dan sektor usaha yang berbasis
pengetahuan relatif masih sangat kurang, apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk
Indonesia. Padahal sektor ini sangat potensial sebagai tumpuan untuk meningkatkan
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
85
produktivitas, daya saing, dan pertumbuhan ekonomi nasional dalam era ekonomi
berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa mendatang.
Dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi APEC, diperlukan satu unit
UKM untuk setiap 20 orang penduduk, sehingga diperlukan tambahan 70 juta UKM di
kawasan anggota APEC sampai dengan tahun 2020 (Harvie dan Hoa, 2003). Hal ini
berdasarkan hasil kajian Pacific Economic Cooperation Council bahwa anggota ekonomi
APEC yang maju, umumnya memiliki rasio wirausaha terhadap terhadap jumlah
penduduk yang lebih besar dibandingkan dengan anggota APEC yang tergolong sedang
berkembang. Soetrisno (2003) menyebutkan bahwa untuk kasus Indonesia, diperlukan
tambahan 20 juta unit UKM di luar sektor pertanian sampai dengan tahun 2020,
mengingat sebagian besar UKM berada dalam skala industri rumahtangga.
Dalam rangka mengembangkan wirausaha baru yang berbasis pengetahuan
dan teknologi, diperlukan pengembangan kewirausahaan terutama pada sektor ekonomi
yang propspektif, perekayasaan budaya masyarakat yang mendukung kewirausahaan,
penciptaan lingkungan usaha kondusif, dan dukungan perkuatan bagi lahirnya
wirausaha baru yang berbasis pengetahuan dan teknologi. Kajian ini berupaya
memetakan proyeksi jumlah wirausaha baru di setiap sektor ekonomi, termasuk di
dalamnya upaya penumbuhannya.
1.2 Perumusan Masalah
Pokok masalah yang menjadi fokus kajian ini adalah seberapa banyak jumlah
wiausaha baru dapat dilahirkan dan bagaimana wirausaha lama dapat dikembangkan
agar dapat bersaing secara global.
1.3 Tujuan dan Manfaat
Kajian ini bertujuan untuk :
a. Menyusun proyeksi wirausaha Baru di Indonesia tahun 2004-2009;
b. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi penumbuhan wirausaha
baru;
c. Mengetahui karakteristik wirausaha yang melakukan kegiatan usaha skala
kecil.
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai masukan dalam kebijakan
pemberdayaan UKM, khususnya yang berkaitan dengan penumbuhan wirausaha baru.
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
2.1. Tinjauan Pustaka
Kewirausahaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan bisnis.
Sedangkan wirausahawan adalah seseorang pengusaha yang jeli, ulet, hati-hati, dan
terampil dalam menjalankan serta mengembangkan usahanya (Kao, 1989). Di sisi
lain, Timmons (1978) memandang kewirausahaan sebagai tindakan kreatif atau suatu
kemampuan melihat dan memanfaatkan peluang, bahkan pada saat semua orang
tidak melihat adanya peluang. Dengan demikian, kewirausahaan adalah kesatuan
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
86
terpadu dari semangat, nilai-nilai, prinsip, sikap, kiat, seni, dan tindakan nyata yang
sangat perlu, tepat, dan unggul dalam menangani dan mengembangkan perusahaan
atau kegiatan lain, yang mengarah pada pelayanan terbaik kepada pelanggan dan
pihak-pihak lain yang berkepentingan, termasuk masyarakat, bangsa, dan negara.
Dalam kajian ini, kewirausahaan dipandang sebagai suatu tindakan kreatif dalam
memanfaatkan kesempatan untuk mengawali dan menjalankan suatu kegiatan tertentu,
dengan tujuan memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan dan pihak-pihak
lain. Menjadi wirausaha berarti memiliki kemampuan menemukan dan mengevaluasi
peluang-peluang serta mengumpulkan sumberdaya yang diperlukan, kemudian
bertindak untuk mendapatkan keuntungan dari peluang tersebut. Kewirausahaan
merupakan kombinasi dari karakter wirausaha, kesempatan, dukungan sumberdaya,
dan tindakan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa definisi kerja wirausaha yang
akan dipakai dalam studi ini adalah seseorang yang (1) memiliki daya kreativitas dan
daya inovasi yang kuat, (2) mempunyai kemampuan manajerial yang tinggi, (3)
menguasai pengetahuan tentang dunia bisnis secara mendalam, dan (4) berperilaku
dengan tujuan membentuk suatu organisasi usaha.
Terdapat studi yang menunjukkan bahwa kondisi lingkungan berperan dalam
pengembangan kewirausahaan, namun studi tersebut masih bersifat parsial, deskriptif,
dan hanya terfokus pada aspek-aspek tertentu dari lingkungan. Keterbatasan literatur
dan konsep mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kewirausahaan
mempersulit pembuat kebijakan (pemerintah) dalam mengembangkan kewirausahaan
di daerahnya. Dari berbagai penelitian diidentifikasi lima faktor lingkungan yang
berpengaruh terhadap pengembangan kewirausahaan, yaitu: (1) prosedur dan kebijakan
pemerintah, (2) kondisi sosial ekonomi, (3) keterampilan kewirausahaan dan kemampuan
bisnis, (4) dukungan keuangan, dan (5) dukungan non keuangan. Kombinasi yang
tepat dari kelima faktor lingkungan tersebut, ditambah kehadiran calon wirausaha akan
melahirkan sebuah kegiatan bisnis baru (Gnyawali dan Fogel, 1994; Agung Nur Fajar,
1996).
Vesper (1990) mengidentifikasi empat unsur pembentuk wirausaha, yaitu: (1)
peluang bisnis yang menguntungkan, (2) pengetahuan teknis kewirausahaan, (3)
keterampilan bisnis, (4) inisiatif wirausaha. Pengetahuan teknis dan ketrampilan bisnis
ini oleh Gnyawali dan Fogel (1994) didefinisikan sebagai ability to enterprise, sedang
inisiatif didefinisikan sebagai propensity to enterprise. Jadi, menurut Gnyawali dan
Fogel, tiga elemen pokok yang mempengaruhi pembentukan kewirausahaan adalah
peluang (opportunity), kemauan berwirausaha (propensity to enterprise), dan
kemampuan berwirausaha(ability to enterprise).
Peluang diartikan sebagai tingkat kemungkinan lahirnya usaha baru dan luasnya
kesempatan yang tersedia bagi wirausaha untuk memanfaatkan kelebihan yang
dimilikinya dalam mencapai keberhasilan. Kemampuan berwirausaha diartikan sebagai
kemampuan teknik dan bisnis yang diperlukan untuk memulai atau menjalankan suatu
bisnis. Kemampuan teknik merupakan keterampilan teknik, sedangkan kemampuan
bisnis merupakan pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai aspek fungsional
bisnis, seperti perencanaan bisnis, pengembangan produk, pemasaran, manajemen
personalia, manajemen umum, akuntansi, keuangan, dan lain-lain. Inisiatif dan kemauan
memulai usaha dipengaruhi oleh pendapat masyarakat terhadap profesi kewirausahaan
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
87
dan pengakuan masyarakat atas kinerja profesi wirausaha. Untuk itu, pemerintah
diharapkan dapat membentuk pengertian masyarakat yang benar mengenai
kewirausahaan. Adapun faktor kemauan merupakan sebuah niat yang harus hadir
dari diri calon wirausahawan itu sendiri. Memulai suatu kegiatan usaha berarti terlibat
pada suatu risiko. Jadi kemauan menjadi wirausaha adalah kemauan menanggung
risiko (Kuratko & Hodgetts, 1995).
Sikap masyarakat mempunyai pengaruh potensial dalam mendorong atau
menghambat pola perilaku kewirausahaan. Seorang wirausahawan tidak merasa leluasa
bergerak dan bertindak, jika ia berada ditengah-tengah anggota masyarakat yang
memiliki pandangan negatif terhadap kegiatan wirausaha. Gnyawali dan Fogel (1994)
menyatakan faktor sosial sama pentingnya dengan faktor modal, informasi, bantuan
teknis, dan fasilitas fisik dalam melahirkan kegiatan bisnis baru. Hal ini berarti bahwa
tersedianya modal, bantuan teknis, informasi yang diperlukan, dan fasilitas lain tidak
akan menjamin terciptanya kegiatan bisnis baru, jika tidak ada dukungan
sosial.Perekonomian suatu daerah dapat mempengaruhi lahir dan tumbuhnya
wirausaha. Daerah yang melaksanakan secara aktif program pengembangan
perekonomian, akan melahirkan lebih banyak kegiatan wirausaha dibandingkan dengan
daerah yang tidak atau sedikit memiliki program pengembangan perekonomian daerah.
Bahkan, saluran distribusi yang kuat dan persaingan antar badan usaha yang ketat
merupakan kesempatan bagi wirausaha untuk melakukan inovasi (Porter, 1990).
Pengembangan kewirausahaan terkait erat dengan pengembangan UKM,
mengingat wirausaha yang ada dan yang berpotensi dilahirkan di Indonesia, umumnya
akan melalui tahapan skalaUKM, sebelum menjadi usaha berskala besar dan skala
global. UKM menjadi sangat penting bagi pembangunan ekonomi bekelanjutan dan
untuk menjadi ekonomi yang modern/maju. Kewirausahaan juga penting untuk
pertumbuhan investasi langsung dari luar, membangun jejaring produksi regional dan
memberikan kontribusi kepada pertumbuhan domestik dan kawasan.
Terdapat empat faktor yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan
kewirausahaan, yaitu : (1) akses terhadap modal, (2) peran inovasi, (3) pelatihan
kewirausahaan, dan (4) peran pemerintah dalam menciptakan iklim berusaha yang
kondusif bagi lahirnya wirausaha yang berdaya saing. Thailand dan USA merupakan
negara yang menyatakan bahwa akses terhadap modal merupakan salah satu faktor
penting bagi pengembangan UKM, khusus wirausaha baru. Bahkan, di beberapa
negara, seperti India, Amerika Serikat, Jepang, dan Taiwan terdapat dana khusus
untuk usaha pemula (business start-up). Keterlibatan pemerintah sangat penting dalam
pengembangan inovasi dan proses pewirausahaan. Dengan berinvestasi pada inovasi,
artinya pemerintah berinvestasi untuk kesejahteraan rakyat. Landasan dan kebijakan
kunci untuk pertumbuhan wirausaha baru atau pemula menyangkut pusat-pusat
pelayanan, eksibisi bisnis, program pelatihan, dan inkubator bisnis.
Faktor yang berkaitan dengan pelatihan kewirausahaan ditujukan pada strategi
untuk meningkatkan kemampuan pengusaha. Keberhasilan pengembangan ini
bergantung pada kemampuan pemerintah menerapkan kebijakan, yang menyangkut
intervensi langsung dan keseimbangan dari pasar pendidikan di seluruh sektor dan
seluruh tingkatan pendidikan. Dalam pengembangan kewirausahaan, beberapa
komponen yang perlu diperhatikan adalah : (1) mengidentifikasi, memilih, dan
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
88
memberikan dukungan kepada pengusaha potensial untuk mengembangkan usaha
baru, (2) memfasilitasi pertumbuhan pengusaha-pengusaha yang ada, (3) memberikan
kontribusi ke arah pengembangan budaya wirausaha, dan (4) memfasilitasi terciptanya
iklim usaha yang kondusif bagi UKM pada tingkat pemula dan dalam pertumbuhan.
Secara garis besar ada lima rambu-rambu dalam mengembangkan
wirausaha baru berdasarkan praktik terbaik yang teruji secara internasional (UNCTAD
dalam Noer Soetrisno, 2003), yaitu :
1. Pembentukan kerangka kondisi dan lingkungan bisnis yang baik bagi
tumbuhnya wirausaha baru;
2. Sistem insentif yang dirancang dengan baik;
3. Intervensi pemerintah yang seminimal mungkin tetapi efektif;
4. Adanya kerjasama yang baik dengan dunia perguruan tinggi;
5. Membangun perusahaan swasta untuk mengembangkan dan mengasuh
wirausaha baru.
Kerjasama antara perguruan tinggi dan perusahaan swasta akan mampu
menumbuhkan wirausaha baru, karena kedua lembaga ini memiliki karakteristik yang
saling melengkapi. Kombinasi antara ciri mengejar keuntungan dan kepuasan untuk
mencari sesuatu yang baru yang bermanfaat bagi kemajuan. Model inkubasi bisnis
yang didukung oleh intervensi pemerintah yang tepat menjadi model terbaik di berbagai
negara.
Peran swasta untuk menumbuhkan wirausaha baru sangat penting, karena
inkubator bisnis yang berhasil umumnya terdiri dari perusahaan swasta yang sukses.
Perusahaan swasta yang sukses dapat bertindak sebagai mentor bagi pengusaha
baru dalam kemampuan manajerial, keterampilan teknis, memberikan jaminan pasar,
dan menjadi avalis bagi wirausaha baru dalam berhubungan dengan perbankan. Dengan
demikian, segenap praktik terbaik pengembangan wirausaha memerlukan komitmen
untuk melaksanakannya. Karena itu, perlu segera diwujudkan program aksi pada
tingkat daerah berupa upaya menumbuhkan seorang wirausaha baru di tiap desa setiap
bulannya (Noer Soetrisno, 2003).
2.2 Kerangka Pikir
Menyusun proyeksi jumlah wirausaha di Indonesia memerlukan keberanian yang
luar biasa, karena kompleksnya variabel penentu dan hampir semua aspek yang
berkaitan masih belum menentu (masih cair), seperti : kinerja ekonomi, motivasi dan
keberanian menanggung risiko, politik, sosial, budaya, dan hukum. Variabel yang relatif
dapat diproyeksikan secara akurat adalah jumlah penduduk. Hal ini terutama untuk
jangkauan waktu yang relatif panjang, yaitu sampai tahun 2020.
Untuk kepentingan proyeksi ini dilakukan penyederhanaan, yaitu berbagai
variabel dianggap akan berpengaruh terhadap kinerja ekonomi, sehingga variabel
ekonomi dianggap mampu merepresentasikan perkembangan variabel keamanan,
sosial, budaya, ekonomi, dan trend perkembangan global. Dengan demikian, proyeksi
jumlah wirausaha dianggap dipengaruhi oleh dinamika perkembangan ekonomi dan
perkembangan jumlah penduduk. Kedua variabel ini menjadi penentu pada sisi
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
89
permintaan terhadap produk yang dihasilkan wirausaha, sedang variabel penduduk
menjadi input dari sisi pasokan wirausaha.
Dengan pertimbangan belum ada teknik proyeksi jumlah wirausaha yang baku,
maka proyeksi jumlah wirausaha dilakukan dengan berbagai pendekatan, antara lain :
(1) menggunakan model ekonometrik, (2) pendekatan elastisitas, (3) pendekatan input
output, (4) pendekatan ketenagakerjaan, dan (5) pendekatan benchmarking rasio
pengusaha terhadap jumlah penduduk pada beberapa negara. Pendekatan pertama
sampai keempat didasarkan pada keterkaitan jumlah wirausaha baru dengan kinerja
ekonomi yang mengacu pada data historis Indonesia, dengan asumsi tidak ada
perubahan kebijakan pengembangan kewirausahaan yang signifikan. Keempat
pendekatan ini akan dipilih berdasarkan pada MPE yang terendah. Peramalan jumlah
wirausaha per sektor didasarkan pada hasil proyeksi dengan beberapa penyesuaian
berdasarkan besaran MPE. Pendekatan kelima merupakan benchmarking dari berbagai
negara lain yang dapat dijadikan acuan untuk menetapkan sasaran pengembangan
jumlah wirausaha yang ideal di Indonesia. Adanya gap yang besar antara hasil
pendekatan kelima dengan pendekatan lainnya merupakan indikasi perlunya upaya
mempercepat pengembangan kewirausahaan di Indonesia.
Dari beberapa pendekatan dalam menyusun proyeksi wirausaha di Indonesia,
model ekonometrik merupakan pilihan utama yang digunakan dalam kajian ini. Pilihan
model ekonometrik dengan pertimbangan bahwa model ini menggunakan berbagai
angka perkiraan kinerja ekonomi pada masa mendatang, terutama perkiraan
pertumbuhan ekonomi nasional dan pertumbuhan ekonomi menurut sektor usaha.
Perkiraan pertumbuhan ekonomi yang digunakan dalam kajian ini didasarkan pada
model ekonometrik yang dikembangkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Model
BPS dipilih dengan pertimbangan beberapa data BPS yang digunakan masih merupakan
angka perkiraan, sehingga terjaga konsistensi data dengan hasil proyeksinya. Model
ekonometri BPS didasarkan pada model Keynes dan hanya difokuskan pada sisi
penggunaan (demand side). Prediksi yang dilakukan adalah prediksi ekonomi tahunan
untuk tahun 2003 dan untuk lima tahun ke depan, yaitu 2004-2009 dengan menggunakan
asumsi moderat yang cenderung optimis.
Di dalam membuat model prediksi ini, ada beberapa variabel yang akan
dipertimbangkan. Salah satunya yang paling penting adalah konsumsi rumah tangga,
yang merupakan pemicu kuat pengaruhnya dalam perekonomian Indonesia. Selain itu
ekspor dan impor juga dimuat di dalam model. Beberapa variabel lainnya, seperti
tingkat suku bunga, nilai tukar rupiah, dan inflasi juga akan dipertimbangkan dalam
model, mengingat variabel ini cukup mempengaruhi perekonomian Indonesia. Tingkat
suku bunga dilihat melalui pendekatan M2. Di samping itu, ada beberapa variabel
exogenous lainnya, seperti perekonomian dunia, terutama Amerika Serikat dan Jepang,
karena kedua negara ini merupakan negara importir terbesar dari produk Indonesia.
Begitu juga dengan pinjaman asing, investasi asing, dan harga luar negeri juga akan
dilihat pengaruhnya.
Sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa asumsi yang digunakan adalah
moderat yang cenderung optimis dalam arti diasumsikan pada tahun 2006 ekonomi
kita sudah mulai stabil. Pada tahun ini, nilai tukar dolar sudah mencapai angka stagnan,
yaitu sebesar Rp 8.000, begitu juga dengan kondisi pemerintahan sudah mulai stabil.
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
90
Dengan demikian, kapital pemerintah sedikit demi sedikit sudah mulai tumbuh, karena
didukung dengan perekonomian Jepang dan USA yang kian terus tumbuh, yang
sebelumnya mengalami penurunan.
Pendekatan jumlah wirausaha dilakukan dengan jumlah unit usaha pada setiap
sektor. Kajian ini menggunakan asumsi bahwa setiap unit usaha dimiliki oleh seseorang
wirausaha, demikian sebaliknya setiap wirausaha dianggap hanya memiliki satu unit
usaha. Model yang disusun dalam kajian ini merupakan dekomposisi dari perekonomian
Indonesia menjadi 9 sektor usaha. Hal yang sama juga diberlakukan terhadap variabel
unit usaha. Pemilihan variabel bebas untuk setiap persamaan perilaku ditentukan
berdasarkan uji signifikansi untuk setiap variabel bebas dengan jumlah unit usaha
pada setiap sektor.
Dalam model ini digunakan metode penduga Two Stage Least Square (2 SLS),
agar hasil pendugaan parameter yang diperoleh menjadi lebih efisien dan tidak bias.
Demikian pula untuk kondisi penggunaan data deret waktu (time series), yang dapat
menimbulkan gangguan berupa adanya autokorelasi. Untuk mengatasi gangguan
tersebut, digunakan metode Cohranne-Orcutt yang dapat mengubah bentuk persamaan
menjadi autoregresif.
Ada dua blok peubah yang digunakan dengan 17 persamaan stokastik, yaitu
blok ekonomi sebanyak 8 persamaan dan blok unit usaha sebanyak 9 persamaan
serta 3 persamaan identitas (deterministik).
Persamaan Identitas dimaksud adalah:
1. Y9t = GDPt – (Y1t+ Y2t + Y3t + Y4t + Y5t + Y6t + Y7t + Y8t )
2. Kt = 0,97 Kt-1 + CFt
3. Ut = U1t + U2t + U3t + U4t + U5t + U6t + U7t + U8t + U9t
Keterangan:
1. Y1t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha pertanian,
peternakan, kehutanan, perkebunan, dan perikanan;
2. Y2t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha pertambangan dan
penggalian;
3. Y3t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha industri pengolahan;
4. Y4t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha listrik, gas dan air
bersih;
5. Y5t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha bangunan;
6. Y6t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha perdagangan, hotel
dan restaurant;
7. Y7t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha pengangkutan dan
komunikasi;
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
91
8. Y8t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha keuangan,
persewaan dan jasa perusahaan;
9. Y9t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha usaha jasa-jasa;
10. GDPt adalahProduk domestik bruto Indonesia;
11. Ext adalah nilai ekspor barang dan jasa;
12. Kt adalah stok kapital;
13. CFt adalah investasi fisik/pembentukan modal tetap bruto;
14. U1t adalah jumlah unit usaha di sektor pertanian, peternakan,
kehutanan dan perikanan;
15. U2t adalah jumlah unit usaha di sektor pertambangan dan penggalian;
16. U3t adalah jumlah unit usaha di sektor industri pengolahan;
17. U4t adalah jumlah unit usaha di sektor listrik, gas dan air bersih;
18. U5t adalah jumlah unit usaha di sektor bangunan;
19. U6t adalah jumlah unit usaha di sektor perdagangan, hotel dan
restoran;
20. U7t adalah jumlah unit usaha di sektor pengangkutan dan
komunikasi;
21. U8t adalah jumlah unit usaha di sektor keuangan, persewaan dan jasa
perusahaan;
22. U9t adalah jumlah unit usaha di sektor jasa-jasa;
23. Ut adalah total unit usaha di Indonesia
III. METODE KAJIAN
3.1 Lokasi dan Objek Kajian
Kegiatan kajian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode survai di 15
(lima belas) provinsi, yaitu Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa
Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat,, Kalimantan
Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Papua. Objek
kajian adalah faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah wirausaha baru dan proyeksi
jumlah wirausaha baru 2004-2009. Untuk memperkuat hasil kajian ini, juga dilakukan
inventarisasi berbagai karakteristik wirausaha skala UKM di berbagai sektor usaha.
3.2 Penarikan Sampel
Untuk memperoleh data dan informasi melalui survai, penarikan sampel
UKM dilakukan dengan cluster sampling berdasarkan sektor usaha.
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
92
3.3 Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh langsung dari responden
melalui wawancara dengan bantuan kuesioner yang telah disusun. Responden yang
ditetapkan dalam penelitian ini adalah pemilik perusahaan. Untuk melengkapi bahan
analisis dilakukan wawancara terhadap pembina UKM dan kelompok pakar, serta
menggunakan data sekunder yang bersumber dari instansi terkait, terutama BPS.
3.4 Model Analisis
Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Model ekonometrik digunakan untuk membuat proyeksi wirausaha baru
menurut sektor usaha;
b. Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk karakteristik wirausaha yang
melakukan kegiatan usaha skala kecil.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Proyeksi Wirausaha Baru
Hasil proyeksi wirausaha baru skala kecil menurut sektor usaha dengan
menggunakan pendekatan ekonometrik berdasarkan unit usaha disajikan pada tabel
1 . Dari tabel 1 tersebut terlihat bahwa proyeksi jumlah unit usaha kecil mengalami
pertumbuhan pada seluruh sektor. Rata-rata pertumbuhan jumlah unit usaha pada
peroide tahun 2004-2009 adalah sebesar 2,11 persen, dengan rata-rata pertumbuhan
tertinggi dicapai sektor 8 sebesar 13,65 persen, kemudian diikuti sektor 4 sebesar
7,72 persen dan sektor 7 sebesar 7,56 persen. Sedangkan sektor dengan rata-rata
pertumbuhan terendah adalah sektor 1 sebesar 0,72 persen, kemudian diikuti sektor 2
sebesar 2,80 persen dan sektor 5 sebesar 2,86 persen. pertumbuhan terendah adalah
sektor 1 sebesar 0,72 persen, kemudian diikuti sektor 2 sebesar 2,80 persen dan
sektor 5 sebesar 2,86 persen.
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
93
Tabel 1 Proyeksi Jumlah Unit Usaha Kecil Menurut Sektor Usaha Tahun
Tahun 2004-2009
Sektor 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2004-2009
1
24.371.225
24.613.911
24.840.267
25.054.974
25.249.748
25.430.953
1.059.728
Pertumbuhan
1,00
0,92
0,86
0,78
0,72
0,72
2
349.362
360.674
371.934
383.457
395.453
408.133
58.771
Pertumbuhan
3,24
3,12
3,10
3,13
3,21
2,80
3
2.666.924
2.758.832
2.858.537
2.967.023
3.084.934
3.214.111
547.187
Pertumbuhan
3,45
3,61
3,80
3,97
4,19
3,42
4
9.675
10.269
11.031
11.893
12.938
14.158
4.483
Pertumbuhan
6,14
7,42
7,81
8,79
9,43
7,72
5
163.174
167.174
171.493
176.288
181.831
191.189
28.015
Pertumbuhan
2,45
2,58
2,80
3,14
5,15
2,86
6
8.614.374
8.781.705
9.110.365
9.501.392
9.948.546
10.426.908
1.812.534
Pertumbuhan
1,94
3,74
4,29
4,71
4,81
3,51
7
2.484.825
2.628.525
2.800.124
3.012.779
3.286.351
3.611.220
1.126.395
Pertumbuhan
5,78
6,53
7,59
9,08
9,89
7,56
8
30.949
34.207
38.103
42.899
48.858
56.304
25.355
Pertumbuhan
10,53
11,39
12,59
13,89
15,24
13,65
9
2.351.729
2.458.259
2.558.764
2.657.957
2.763.798
2.876.789
525.060
Pertumbuhan
4,53
4,09
3,88
3,98
4,09
3,72
Jumlah
41.042.237
41.813.556
42.760.618
43.808.662
44.972.457
46.229.765
5.187.528
Pertumbuhan
1,61
1,88
2,26
2,45
2,66
2,80
2,11
Sumber : Data BPS (Diolah)
Keterangan : 1 = Pertanian, peternakan, kehutanan, perkebunan, dan perikanan
2 = Pertambangan dan penggalian
3 = Industri pengolahan
4 = Listrik, gas, dan air bersih
5 = Bangunan
6 = Perdagangan, hotel, dan restoran
7 = Pengangkutan dan komunikasi
8 = Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan
9 = Jasa-jasa
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
94
Hasil proyeksi wirausaha baru skala menengah menurut sektor usaha dengan
menggunakan pendekatan ekonometrik berdasarkan unit usaha disajikan pada tabel
2 . Dari tabel 2 tersebut terlihat bahwa proyeksi jumlah unit usaha menengah mengalami
pertumbuhan pada seluruh sektor. Rata-rata pertumbuhan jumlah unit usaha pada
peroide tahun 2004-2009 adalah sebesar 2,11 persen, dengan rata-rata pertumbuhan
tertinggi dicapai sektor 8 sebesar 13,65 persen, kemudian diikuti sektor 4 sebesar
7,72 persen dan sektor 7 sebesar 7,55 persen. Sedangkan sektor dengan rata-rata
pertumbuhan terendah adalah sektor 1 sebesar 0,72 persen, kemudian diikuti sektor 2
sebesar 2,81 persen dan sektor 5 sebesar 2,86 persen.
Tabel 2 Proyeksi Jumlah Unit Usaha Menengah Menurut Sektor Usaha Tahun 2004-
2009
S e k to r 2 0 0 4 2 0 0 5 2 0 0 6 2 0 0 7 2 0 0 8 2 0 0 9 2 0 0 4 -2 0 0 9
1
1 .7 7 2 1 .7 8 9
1 .8 0 6
1 .8 2 1
1 .8 3 6
1 .8 4 9 7 7
P e r tum b u h a n 0 ,9 6
0 ,9 5
0 ,8 3
0 ,8 2
0 ,7 1 0 ,7 2
2
1 .2 2 2 1 .2 6 2
1 .3 0 1
1 .3 4 1
1 .3 8 3
1 .4 2 8 2 0 6
P e r tum b u h a n 3 ,2 7
3 ,0 9
3 ,0 7
3 ,1 3
3 ,2 5 2 ,8 1
3
8 .7 9 2 9 .0 9 5
9 .4 2 3
9 .7 8 1
1 0 .1 7 0
1 0 .5 9 5 1 .8 0 3
P e r tum b u h a n 3 ,4 5
3 ,6 1
3 ,8 0
3 ,9 8
4 ,1 8 3 ,4 2
4
1 .0 0 4 1 .0 6 5
1 .1 4 4
1 .2 3 4
1 .3 4 2
1 .4 6 9 4 6 5
P e r tum b u h a n 6 ,0 8
7 ,4 2
7 ,8 7
8 ,7 5
9 ,4 6 7 ,7 2
5
9 .4 3 1 9 .6 6 3
9 .9 1 2
1 0 .1 8 9
1 0 .5 1 0
1 1 .0 5 1 1 .6 2 0
P e r tum b u h a n 2 ,4 6
2 ,5 8
2 ,7 9
3 ,1 5
5 ,1 5 2 ,8 6
6
2 1 .6 6 7 2 2 .0 8 8
2 2 .9 1 4
2 3 .8 9 8
2 5 .0 2 2
2 6 .2 2 6 4 .5 5 9
P e r tum b u h a n 1 ,9 4
3 ,7 4
4 ,2 9
4 ,7 0
4 ,8 1 3 ,5 1
7
3 .0 3 2 3 .2 0 7
3 .4 1 6
3 .6 7 6
4 .0 1 0
4 .4 0 6 1 .3 7 4
P e r tum b u h a n 5 ,7 7
6 ,5 2
7 ,6 1
9 ,0 9
9 ,8 8 7 ,5 5
8
6 .8 2 0 7 .5 3 8
8 .3 9 6
9 .4 5 3
1 0 .7 6 6
1 2 .4 0 7 5 .5 8 7
P e r tum b u h a n 1 0 ,5 3
1 1 ,3 8
1 2 ,5 9
1 3 ,8 9
1 5 ,2 4 1 3 ,6 5
9
6 .8 7 7 7 .1 8 8
7 .4 8 2
7 .7 7 2
8 .0 8 2
8 .4 1 2 1 .5 3 5
P e r tum b u h a n 4 ,5 2
4 ,0 9
3 ,8 8
3 ,9 9
4 ,0 8 3 ,7 2
J um la h
6 0 .6 1 7 6 2 .8 9 5
6 5 .7 9 4
6 9 .1 6 6
7 3 .1 2 1
7 7 .8 4 3 1 7 .2 2 6
P e r tum b u h a n
3 ,4 4 3 ,7 6
4 ,6 1
5 ,1 3
5 ,7 2
6 ,4 6 4 ,7 4
Sumber : Data BPS (Diolah)
Keterangan : 1 = Pertanian, peternakan, kehutanan, perkebunan, dan perikanan
2 = Pertambangan dan penggalian
3 = Industri pengolahan
4 = Listrik, gas, dan air bersih
5 = Bangunan
6 = Perdagangan, hotel, dan restoran
7 = Pengangkutan dan komunikasi
8 = Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan
9 = Jasa-jasa
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
95
Hasil proyeksi wirausaha baru skala besar menurut sektor usaha dengan
menggunakan pendekatan ekonometrik berdasarkan unit usaha disajikan pada tabel
3 . Dari tabel 3 tersebut terlihat bahwa proyeksi jumlah unit usaha besar mengalami
pertumbuhan pada seluruh sektor. Rata-rata pertumbuhan jumlah unit usaha pada
peroide tahun 2004-2009 adalah sebesar 2,11 persen, dengan rata-rata pertumbuhan
tertinggi dicapai sektor 8 sebesar 13,61 persen, kemudian diikuti sektor 4 sebesar
7,89 persen dan sektor 7 sebesar 7,53 persen. Sedangkan sektor dengan rata-rata
pertumbuhan terendah adalah sektor 1 sebesar 0,74 persen, kemudian diikuti sektor 2
dan 5 masing-masing sebesar 2,85 persen.
Tabel 3 Proyeksi Jumlah Unit Usaha Besar Menurut Sektor Usaha Tahun
2004-2009
Sumber : Data BPS (Diolah)
Keterangan : 1 = Pertanian, peternakan, kehutanan, perkebunan, dan perikanan
2 = Pertambangan dan penggalian
3 = Industri pengolahan
4 = Listrik, gas, dan air bersih
5 = Bangunan
6 = Perdagangan, hotel, dan restoran
7 = Pengangkutan dan komunikasi
8 = Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan
9 = Jasa-jasa
Sektor 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2004-2005
1 68 68 69 70 70 71 3
Pertumbuhan – 1,47 1,45 – 1,43 0,74
2 123 127 131 136 140 144 21
Pertumbuhan 3,25 3,15 3,82 2,94 2,86 2,85
3 580 600 622 646 671 700 120
Pertumbuhan 3,45 3,67 3,86 3,87 4,32 3,45
4 93
99 107 115 125 137 44
Pertumbuhan 6,45 8,08 7,48 8,70 9,60 7,89
5 205 210 215 221 228 240 35
Pertumbuhan 2,44 2,38 2,79 3,17 5,26 2,85
6 413 421 437 455 477 500 87
Pertumbuhan 1,94 3,80 4,12 4,84 4,82 3,51
7 146 154 164 177 193 212 66
Pertumbuhan 5,48 6,49 7,93 9,04 9,84 7,53
8 333 368 409 461 525 605 272
Pertumbuhan 10,51 11,14 12,71 13,88 15,24 13,61
9 253 265 276 286 298 310 57
Pertumbuhan 4,74 4,15 3,62 4,20 4,03 3,75
Jumlah 2.214 2.312 2.430 2.567 2.727 2.919 705
Pertumbuhan 4,05 4,43 5,10 5,64 6,23 7,04 5,31
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
96
Hasil proyeksi wirausaha baru secara keseluruhan menurut sektor usaha dengan
menggunakan pendekatan ekonometrik berdasarkan unit usaha disajikan pada tabel
3 . Dari tabel 3 tersebut terlihat bahwa proyeksi total unit usaha keseluruhan mengalami
pertumbuhan pada seluruh sektor. Rata-rata pertumbuhan jumlah unit usaha pada
peroide tahun 2004-2009 adalah sebesar 2,28 persen, dengan rata-rata pertumbuhan
tertinggi dicapai sektor 8 sebesar 12,20 persen, kemudian diikuti sektor 4 sebesar
7,80 persen dan sektor 7 sebesar 7,34 persen. Sedangkan sektor dengan rata-rata
pertumbuhan terendah adalah sektor 1 sebesar 0,83 persen, kemudian diikuti sektor 5
dan 2 masing-masing sebesar 3,03 persen dan 3,20 persen.
Tabel 4 Proyeksi Total Unit Usaha Menurut Sektor Usaha Tahun 2004-2009
Sektor 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2004-2009
1
24.373.065
24.615.768
24.842.142
25.056.865 25.251.654 25.432.873 1.059.808
Pertumbuhan
0,70
1,00
0,92
0,86
0,78
0,72 0,83
2
350.707
362.063
373.366
384.934
396.976
409.705 58.998
Pertumbuhan
3,43
3,24
3,12
3,10
3,13
3,21 3,20
3
2.676.296
2.768.527
2.868.582
2.977.450
3.095.775
3.225.406 549.110
Pertumbuhan
2,50
3,45
3,61
3,80
3,97
4,19 3,59
4
10.772
11.433
12.282
13.242
14.405
15.764 4.992
Pertumbuhan
7,20
6,14
7,43
7,82
8,78
9,43 7,80
5
172.810
177.047
181.620
186.698
192.569
202.480 29.670
Pertumbuhan
2,03
2,45
2,58
2,80
3,14
5,15 3,03
6
8.636.454
8.804.214
9.133.716
9.525.745
9.974.045
10.453.634 1.817.180
Pertumbuhan
1,77
1,94
3,74
4,29
4,71
4,81 3,54
7
2.488.003
2.631.886
2.803.704
3.016.632
3.290.554
3.615.838 1.127.835
Pertumbuhan
5,15
5,78
6,53
7,59
9,08
9,89 7,34
8
38.102
42.113
46.908
52.813
60.149
69.316 31.214
Pertumbuhan
9,57
10,53
11,39
12,59
13,89
15,24 12,20
9
2.358.859
2.465.712
2.566.522
2.666.015
2.772.178
2.885.511 526.652
Pertumbuhan
5,73
4,53
4,09
3,88
3,98
4,09 4,38
Jumlah
41.105.068
41.878.763
42.828.842
43.880.394
45.048.305
46.310.527 5.205.459
Pertumbuhan
1,62
1,88
2,27
2,46
2,66
2,80 2,28
Sumber : Data BPS (Diolah)
Keterangan : 1 = Pertanian, peternakan, kehutanan, perkebunan, dan perikanan
2 = Pertambangan dan penggalian
3 = Industri pengolahan
4 = Listrik, gas, dan air bersih
5 = Bangunan
6 = Perdagangan, hotel, dan restoran
7 = Pengangkutan dan komunikasi
8 = Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan
9 = Jasa-jasa
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
97
4.2 Penyesuaian Proyeksi Wirausaha Baru
Proyeksi wirausaha baru dengan menggunakan model ekonometrik, sebagaimana
disajikan di atas, memerlukan penyesuaian agar diperoleh hasil proyeksi yang lebih
akurat. Penyesuaian tersebut dilakukan dengan menggunakan Mean Percentage Error
(MPE), yang secara matematis dirumuskan sebagai berikut :
(Yt – Ý)
MPE = å —————— : n
Ýt
Hasil perhitungan MPE menunjukkan bahwa secara umum estimasi yang
dihasilkan dapat digunakan karena nilai MPE yang kecil, kecuali untuk sektor tertentu.
MPE pada usaha kecil untuk sektor 7 dan 9 relatif besar, sehingga hasil proyeksi akan
bias karena akan terjadi perbedaan yang relatif besar antara hasil estimasi dengan
kondisi aktual. MPE yang relatif besar untuk usaha menengah terjadi pada sektor 3
dan 7, pada usaha besar terjadi pada sektor 3, 4, 7, dan 9; sedangkan pada proyeksi
total terjadi pada sektor 3,4,6,7, dan 9. Hal ini menunjukkan bahwa MPE yang relatif
tinggi memberikan indikasi harus dilakukan penyesuaian agar diperoleh hasil proyeksi
yang lebih akurat. Penyesuaian model ekonometrik dalam kajian ini dilakukan dengan
pendekatan interval estimate dan point estimate. Interval estimate digunakan untuk
memperoleh dua jenis estimasi, yaitu estimasi pesimis dan estimasi optimis.
Sedangkan point estimate digunakan untuk memperoleh estimasi moderat.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahsan yang disajikan pada uraian di muka, maka
dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Model ekonometrik merupakan pendekatan yang representatif dalam
menyusun proyeksi jumlah wirausaha di Indonesia, namun belum mampu
memberikan proyeksi yang akurat untuk sektor listrik, gas, dan air bersih;
sektor pengangkutan dan komunikasi; dan sektor jasa-jasa karena MPEnya
masih relatif besar.
2. Hasil proyeksi jumlah wirausaha baru untuk tahun 2004-2009 menunjukkan
bahwa dalam kurun waktu lima tahun tersebut jumlah wirausaha baru
bertambah sekitar 5.187.527 unit usaha kecil dan 17.226 unit usaha
menengah.
3. Sektor usaha yang paling potensial untuk mengembangakan wirausaha baru
dengan skala kecil adalah usaha perdagangan, hotel dan restoran;
pengangkutan dan komunikasi; dan pertanian, peternakan, kehutanan,
perkebunan, dan perikanan.
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006
98
4. Sektor usaha yang paling potensial untuk mengembangkan wirausaha baru
dengan skala menengah adalah keuangan, persewaan dan jasa perusahaan;
perdagangan, hotel, dan restoran; dan industri pengolahan.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya wirausaha baru adalah
karakteristik bisnis wirausaha (usia, gender, dan tingkat pendidikan; legalitas
usaha; permodalan; tujuan pemasaran; dan tenaga kerja); serta budaya
dan karakteristik wirausaha baru (motivasi berusaha; hambatan memulai
usaha; dukungan yang diterima; dan peran pemerintah).
5.2 Rekomendasi
Berdasarkan hasil proyeksi jumlah wirausaha, hasil survai karakteristik UKM,
studi kepustakaan, dan analisis yang relevan dengan berbagai aspek yang terkait
pengembangan wirausaha baru, terutama yang mempunyai implikasi terhadap
kebijakan pemberdayaan UKM, maka diajukan rekomendasi sebagai berikut :
1. Kebijakan pemerintah dalam pengembangan wirausaha baru, seyogianya
mempertimbangkan potensi pengembangan menurut skala dan sektor usaha;
2. Dalam upaya pengembangan wirausaha baru di masa yang datang, perlu
mempertimbangkan karakteristik atau profil wirausaha beserta faktor-faktor
yang mempengaruhinya, baik yang melekat pada karakteristik bisnis
wirausaha maupun budaya dan karakteristik wirausaha baru.
DAFTAR PUSTAKA
Harvie, Charles and Tran Van Hoa. 2003. New Asian Regionalism : Responses to
Globalisation and Crises. Palgrave Macmillan.
Soetrisno, Noer. 2003. Kewirausahaan dalam Pengembangan UKM di Indonesia.
dalam Ekonomi Kerakyatan dalam Kancah Globalisasi. Deputi bidang
Pengkajian Sumberdaya UKMK Kementerian Negara Koperasi dan UKM.
Jakarta.
Agung Nur fajar. 1996. Model Pengembangan Kewirausahaan di Indonesia. Makalah
pada Seminar Dosen STEKPI. Jakarta.
Gnyawali, Devi R. and Daniel S. Fogel (1994). Environment for Enterpreneurship
Development : Key Dimension and Research Implications. Enterpreneurship :
Theory and Practice.
Kao, John (1989). Enterpreneurship, Creativity and Organization : Text, Cases and
Reading. Englewood Cliffs, Prentice Hall.
Kuratko and Hodgetts. 1995. Enterpreneurship : A Contemporary Approach. The
Dryden Press. New York.